www.hafied.org

www.hafied.org

Apr 8 / 11:48pm

NOSTALGIA KULINER PUNG DULLAH (H.A.A. GANY)

Nostalgia Kuliner Pung Dullah” (H.A.A. Gany) ….. Dituturkan Oleh Gany-2.

“…….. pikiran saya sontak teringat dengan nostalgia kuliner yang paling nikmat dan berkesan seumur hidup bagi almarhum ayah saya, yang beberapa kali di ceriterakan kepada kami, anak-anaknya. Pada mulanya, saya menduga bahwa pastilah makanan yang dimaksud ayah saya adalah makanan istimewa yang mungkin dinikmatinya bersama orang kaya yang biasa makan bermewah mewah. Ternyata, ceriteranya jauh di luar dugaan saya.

Ayah saya yang ditinggal bapaknya merantau ke Kutai pada saat beliau berumur enam bulan di dalam kandungan ibunya, pada masa remajanya terpaksa menjalani kehidupan keras yang sehari-hari bergaul dengan kawanan preman (ana’ paasaa’ – Bugis) di Desa Gilireng, pemerintahan Wajo bagian Selatan. Beliau tidur dan makan di sana sini bersama kawanannya, dimanapun dia tiba, tanpa alamat tetap. Maklum beliau diasuh oleh ibunya yang janda di desa Kacimpang, hanya sempat menammatkan pendidikannya di sekolah desa tiga tahun, tanpa pernah sempat bertemu dengan bapak di sepanjang hidupnya (ayah saya meninggal di tahun 1994 dalam usia 82 tahun).

Pada suatu hari menjelang siang, ayah saya tiba di dusun Umpungeng di gubuk peladangan pamannya, merebahkan diri di balai-balai bambu (panrung – Bugis)  dalam keadaan lapar dan sempoyongan, karena sejak pagi buta beliau berangkat dari Gilireng berjalan kaki di panas terik, tanpa sarapan atau minum air teh dingin sekalipun. Bermaksud bersama pamannya makan siang di gubuk tersebut, beliau sangat kecewa, mengetahui bahwa pamannya baru saja makan siang, dan makanan tidak tersisa sedikitpun karena besoknya hari pasaran di Umpungeng, saat pamannya akan belanja.

Mengetahui bahwa kemanakannya kecapekan belum makan, paman ayah saya dengan gesit diam-diam menyelinap ke tengah-tengah kebun, mencari tau kalau-kalau ada bisa dimakan ayah saya. Sayangnya bahwa tanaman jagung yang tadinya ada dalam benak beliu, ternyata masih prematus dan belum cukup tua untuk dipetik. Namun demikian, karena tidak ada alternatif lain, rumahnya di Tengnga PadangngE’, harus ditempuh berjalan kaki beberapa jam, terpaksa jagung yang butir-butirnya baru menonjol, dipetik secukupnya, sambil memetik beberapa helai daun kelor dan cabe kecil (ladang barica – Bugis) di pojok pekarangan dalam perjalanan kembali dari kebun. Tanpa berlama-lama lagi, beliau langsung mengiris butiran-butiran jagung prematur tersebut untuk diramunya menjadi makanan siang ayah saya. (Untuk jagung yang sudah cukup  matang, memang biasa dibuat menjadi nasi jagung muda (barelle saroso - Bugis).

Tidak sampai setengah jam, apa yang disiapkan paman ayah saya sebagai makanan siang sudah selesai, dan beliau langsung membangunkan ayah saya, yang sedang berbaring di atas panrung untuk makan. Mungkin karena kecapekan dan kelaparan, ayah saya segera melahap nanre saroso jagung ‘prematur’ tersebut, dengan ditemani sayur daun kelor yang hanya berbumbu garam, dan lauk berupa gerusan garam butiran dan ladang barica.

Setelah selesai meneguk air mentah yang terwadahi kendi batok kelapa, menggunakan cangir tempurung kelapa yang beraroma wangi bekas di asapi (di balempeng – Bugis), ayah saya dengan serta merta mengucapkan syukur Alhamdulillah dengan helaan nafas panjang, serta dengan nada gembira laksana orang ‘kejatuhan durian runtuh’.  Saking nikmatnya, beliau terbaring tanpa bantal di panrung dihembus semilir angin pegunungan Umpungeng, dan baru terbangun menjelang magrib ketika pamannya tiba kembali dari dusun mengambil bahan makanan untuk makanan malam.

Sampai belasan tahun kemudian, ayah saya berkali-kali menuturkan kepada kami, anak-anaknya, bahwa hidangan makan prematur tersebut merupakan santapan yang paling nikmat dan terkenang seumur hidupnya. Sampai beliau kemudian menduduki berbagai jabatan kepolisian di Luwu, Tanah Toraja, Palopo, Masamba, Wotu, sampai pensiun di Soppeng, menurutnya, beliau tidak pernah menikmati makanan senikmat jagung prematur di Umpungeng tersebut.

Sampai beliau meninggal, beliau tidak pernah mau diajak makan ke restoran (kalaupun menghadiri acara pesta, pasti pulangnya minta makan lagi karena makan daging atau ayam, kurang nendang, katanya). Beliau lebih senang menikmati makan nasi ‘beras mandi’ (ase mandi) dengan ikan kering [(pijja bungoo, dolo-doloo, pijja bale bolong -- yang disiram dengan minyak baru tanak – sambal udang kering dengan perasan jeruk nipis, sambal keluak yang dibakar di dalam tempurungnya, dan kadang-kadang dengan ikan gabus asap – bale tekko dan rontok - Bugis), atau telor asing rebus], dengan ditemani sayur bening campur-campur (kaju sibau’ bau’ – Bugis) atau sayur sukun muda (bakaa lolo) dengan buah kelor (bua kiloro’), terong kecil dan labu kuning dengan bumbu cincangan daun asam Jawa (daung pekkecci Jawa) dan bumbu penyedap dari telor udang (tello urang).

Terkadang kalau lagi kurang selera makan, ayah saya minta dibuatkan cacahan mangga muda (cecca pao lolo), masakan cabe muda dan jamur kecil (nasu ladang keddi), atau ramuan jantung pisang dengan kelapa (lawaa doke’), samber terong, dengan bumbu irisan batang serai dan daun kemangi bersama ikan manggarai, serta berbagai kuliner tradisional lainnya yang umumnya nampak aneh di mata generasi muda, seperti anak-anak dan kemanakan saya.

Hal yang menjadi masalah bagi saya, bahwa kebiasaan kuliner orang tua saya tersebut ternyata menular bulat-bulat kepada saya sampai kini saya sudah berusia 65 tahun -- meskipun saya hanya dibesarkan di kampung halaman 15 tahun (3 tahun di Takkalalla, dan 12 tahun di dusun Buccello, Bila Selatan, Watan Soppeng). Setiap pulang kampung (mudik), koper saya penuh dengan bahan-bahan makanan tradisonal karena saya tidak bisa memperolehnya di Jawa. Anak-anak dan kemanakan saya, yang semuanya Bugis Asli di lahirkan dan dibesarkan di luar Tanah Bugis, hanya nyengir-nyengir kuda menyindir, kalau mereka menyambut kami pulang dari mudik di bandara, sambil bisik-bisik satu sama lain dengan gaya anak muda. “Hari geene …!, bapak pasti bawa lagi bahan-bahan kuliner ‘kuno’ dari kampung – di era kuliner modern ini. Saya hanya bergegas naik mobil pura-pura tidak dengar sindiran mereka. Saya mengetahui bahwa mereka pasti tidak akan melirik bawaan kami manakala ngeriung makan, dan lebih memilih menikmati berbagai makanan cepat saji (fast food) yang menjamur saat ini ....... <Hagny>

2 comments

Jul 01, 2009
Sudirman said...
Menarik ceritanya, terima kasih telah mengingatkan saya pada tanah kelahiran tercinta. Umpungeng. Kini 15 thn lalu saya lahir dan tumbuh hingga tamat SDN 11.kini berkeluarga jawa sunda dan kerja di Bintan Island. Thanks and I LL Be back home.
Mar 26, 2010
Sudarman nabeng said...
Akhrx saya dapat melihat fotox k?walau hx poto sya dpat ingat spintas wajahx,dwaktu kecil sya sring dtang dstudiox dpusper watansoppeng,yg skarang dah tinggal dkaltim dan berkeluarga dngan orang tempatan kaltim

Leave a comment...