www.hafied.org

www.hafied.org

Feb 26 / 1:53am

Kenangan "Gunung Sewo" sebagai Latar Belakang Kota Watan Soppeng

Kota Watan Soppeng
 
Saya kira warga Soppeng yang dibesarkan di Kota Watan Soppeng, pastilah akan tetap teringat dengan pemandangan Gunung Sewo, tempat bercengkrama masa kanak-kanak, dengan segala kenangannya. Saya bersama dengan seorang teman sekelas di SR-Latihan (Thamrin Rauf Rasinah), pada tahun 1954, waktu itu kami masih duduk di kelas 3, karena panasaran setiap hari memandang puncak Gunung Sewo, dari rumah di Buccello, memanjat sampai ke puncaknya. Kami menempuh route sebelah Barat dari Desa Sewo. Setelah duduk-duduk di puncak di bawah pohon maja (sekarang sudah mati) sekitar ¼ jam, kami bergegas pulang, karena timbul rasa ketakutan (meskipun pemandangannya sangat indah dan udaranya sangat sejuk, terutama bagi kami anak-anak yang masih berumur 8 tahun), karena ternyata sangat sepi, dan lereng batu sebelah timur sangat curam mengerikan. Malangnya, sewaktu pulang, kami tersesat, sehingga terpaksa berputar-putar menyusuri benteng batu yang menjadi pagar kebun orang. Di tengah jalan, teman saya Thamrin Rauf tiba-tiba diseruduk oleh seekor babi hutan besar yang taringnya melengkung berbentuk huruf ‘S’. Untung dia hanya lecet-lecet sedikit. Rupanya kami telah mengagetkan babi hutan yang sedang istirahat tersebut, karena melewati sangat dekat dengan sarangnya yang diapit oleh alang-alang yang rata-rata lebih tinggi dari orang dewasa. Kami melewati alang-alang yang tersisih kiri kanan, seperti jalan setapak, rupanya itu jalan babi hutan menuju sarangnya.
Begitu kaget dan takutnya, kami tidak segera pulang, sempat kami baring-baring di dangau tua sebuah kebun yang sudah ditinggalkan orang, dan berjanji tidak akan menceriterakan hal ini kepada Guru Baco’ (yang melarang kami pergi jauh-jauh) dan kepada orang tua masing-masing - yang pasti akan marah besar kalau sempat mengetahui.
Sampai saat ini saya belum pernah berceritera tentang hal ini kepada siapa-siapa, meskipun sejak meninggalkan Soppeng tahun 1960, saya tidak pernah lagi ketemu dengan Thamrin. (Kabarnya dia sempat menjadi tentara melalui program “Secapa”, namun belakangan saya dengar kabar sudah meninggal dalam tugas (Semoga beliau diterima di sisi Tuhan dan diampuni dosa-dosanya, amiien).
(Hafied Gany: www.hafied.org)

4 comments

Feb 26, 2009
La Manda Taib A. Enre said...
Saya tidak ada komen karena saya sendiri lahir dan besar di Kota Soppeng, sehingga secara langsung saya bisa merasakan apa yang diceritakan. Saya hanya ingin bertanya, itu fotonya tahun berapa ya diambilnya karena sedikit 'manglingi' (kata orang sunda)
Mar 01, 2009
Hafied Gany said...
Fotonya diambil Bulan Juli 2003, waktu "Rewe Sipulung", diambil di lereng selatan Gunung Kompira. Memang berkesan "manglingi", namun hal ini perlu untuk menunjukkan kondisinya sejalan dengan waktu. Terima Kasih, H@Gany

 
Feb 28, 2010
wahyu purwantara said...
Saya tidak mengomentari, hanya saja saya tertarik ke rekan lamanda taib. Saya dulu pernah punya teman dengan nama lamanda taib , sama -sama pendengar radio australia di tahun 1980 an dan beliau pernah kuliah di bandung (Akademi Niaga..???). Apakah anda benar kawan saya dulu. Bila ya kirim kabar ke email saya dan dimanakah sekarang.
Feb 28, 2010
wahyu purwantara said...
Oh ada yang lupa untuk rekan lamanda taib , email saya wpurwantara@yahoo.com

Leave a comment...