Berkunjung ke Aljazair di Tengah-tengah Perang Saudara 1996
Berkunjung ke Aljazair di Tengah-tengah Perang Saudara 1996
Oleh A. Hafied A. Gany
Pada akhir tahun 1996, ditengah-tengah perang saudara Aljazair, saya diutus oleh ICID Indonesia untuk mengikuti Konferensi Afro Asia ke IX, sebagai alternatif terakhir, karena teman-teman yang lain setelah ditawari, menyatakan berbagai alasan, yang menurut hemat saya hanya sebagai penolakan halus.
Setelah mendapatkan visa Aljazair melalui kedutaan Italia di Jakarta, saya berangkat sendirian dengan sedikit perasaan cemas terhadap kemungkinan yang akan terjadi di tengah-tengah perang saudara di Negaranya Ben Bella tersebut. Pada saat itu, kedutaan Indonesia di Aljier ditutup, dan semua staf kedutaan Indonesia sementara diunsikan ke Roma.
Dalam perjalanan, saya sering-sering mendapatkan pertanyaan dari orang lain yang mengetahui bahwa saya akan berangkat ke Aljazair: “apakah tidak takut kena peluru nyasar”. Saya selalu menjawab bahwa saya berangkat sudah dengan berserah diri kepada Tuhan. Toh saya berangkat dengan penugasan atas nama Indonesia.
Di Bandara Algier, saya yang tiba bersamaan dengan delegasi India dan Thailand (empat orang dengan saya), langsung diamankan ke Bus yang dikawal ketat dengan satu regu pasukan bersenjata, dan kita diminta untuk tidak menampakkan diri di jendela bus, yang tiba di hoter Lale(?) sekitar 45 menit kemudian.
Di Hotel, kami langsung disuruh memasuki kamar setelah melalui pemeriksaan “X-ray” terhadap diri dan barang-barang bawaan. Kami diminta supaya tidak keluar dari kawasan hotel kalau tidak ada pengawal.
Selama enam hari tidak banyak yang saya bisa laporkan mengenai materi konferensi, karena semua materi dan komunikasi dilakukan dalam Bahasa Perancis yang saya sama sekali tidak mengerti. Konferensi dihadiri sekitar 500-an orang warga negara Aljazair yang berbahasa Perancis, dan hanya kami berempat yang berbahasa Inggeris.
Sehari sebelum penutupan, delegasi India meminta kepada panitia supaya kami bisa diantar ke kota atau tempat-tempat menarik, supaya referensi kami tidak kosong sama sekali. Melalui pernyataan “menanggung resiko sendiri kalau ada apa-apa” kami berempat diantar ke kota Tipasa, 50 km ke sebelah Barat Algiers, Ibu kota Aljazair, dengan dikawal beberapa orang tentara bersenjata lengkap. Setelah diterima Gubernur, provinsi Barat, kami baru diperkenanken meninjau reruntuhan kota yang dibangun dalam Zaman Romawi (abad ke dua Masehi), di kawasan pantai Laut Tengah (salah satu peninggalan dunia di antara 830 yang sudah terdaftar sebagai “UNESCO World Heritage"
Terlampir beberapa foto-foto bersama keluarga Aljazair, dan pada saat kunjungan ke Tipasa (Cerita mengenai pengalaman selengkapnya akan kami sajikan di site ini setelah selesai disusun).
