Akhirnya saya bisa juga ke DC setelah disekap oleh Polisi selama 3 jam di Bandara Los Angeles
|
Akhirnya, pada hari Minggu tanggal 19 Februari 1995, saya sempat juga menginjakkan kaki di DC, USA setelah sebelumnya sempat disekap polisi Amerika di Bandara Domestik Los Angeles pada tanggal 13 Februari 1995, karena tidak memiliki visa Amerika.
Tanggal 10 Februari 1995, saya berdua teman saya Pak Hasan seharian di kedutaan Amerika di Jakarta, untuk meminta visa transfer di Bandara Domestik Los Angeles, dalam perjalanan ke Mexico. Malang sekali karena visa saya tidak bisa keluar sampai hari Senin, padahal tanggal 13 Senin, kami sudah berangkat ke Mexico. Akhirnya, kami putuskan untuk meminta paspor kembali tanpa ada visa transfer di Amrik, dan nekat berangkat ke Mexico dengan Pesawat Garuda yang sudah diissue dua minggu sebelumnya. Kami hanya sempat komat kamit membaca doa semoga kami tidak ditahan di Los Angeles, sepanjang penerbangan dari Jakarta, Hongkong sampai Los Angeles.
Rupanya Pilot Garuda sudah mengabarkan ke Bandara Los Angeles bahwa ada dua orang penumpang non Visa yang akan transit di Los Angeles malam itu. Sehingga begitu pesawat mendarat, sertamerta dua orang Polisi bersenjata pistol otomatis di pinggang menemui kami di pesawat, meminta paspor dan dokumen perjalanan dan meminta kami turun mengikutinya ke ruang tunggu Bandara Domestik, yang jadwal pesawat akan terbang 3 jam lagi menuju Mexico City.
Sambil berjalan kaki melewati gerbang Bandara Internasional, saya berdua dengan teman saya Pak Hasan tidak henti-hentinya dalam pengawasan kedua polisi tersebut. Semua orang memandang kami seolah-olah memandang penjahat internasional (waktu itu belum populer istilah teroris) yang sedang ditangkap. Untung kami tidak diborgol. Kami sempat tegang selama tiga jam, selama menunggu penerbangan lanjutan dengan pesawat Mexican Airlines.
Pada saat pesawat akan berangkat, kami tetap dikawal sampai duduk ke nomor kursi tempat duduk pesawat. Polisi tersebut baru beranjak turun setelah pintu pesawat mau ditutup, dan mereka menyerahkan seluruh dokumen perjalanan kami kembali kepada Kapten pesawat Mexican Airlines. Kami baru lega setelah pesawat mendarat di Mexico City hampir pagi hari.
Kekhawatiran kami berikutnya, memenuhi benak kami karena pulangnya akan mampir ke Washington DC untuk sesuatu urusan ke kantor Bank Dunia. Untung, di Mexico City kami dapat mengurus visa selama tiga hari, meskipun mengalami kesulitan karena formolir isian yang ada di kedutaan Amerika Mexico City, kehabisan yang berbahasa Inggeris, sehingga terpaksa cari-cari dulu orang Mexico untuk dimintai bantuan mengisi formulir aplikasi visa yang berbahasa Spanyol.
Alhamdulillah, kami memperoleh visa Amerika tiga hari kemudian, dan merasa lega berangkat kembali ke Indonesia dengan mampir emapat hari di Washington DC. Saya sempat memuas-muaskan diri berkeliling kota di DC setelah menyelesaikan urusan di kantor World Bank. Di foto terlampir, kegembiraan tercermin di wajah kami berpose di sekitar Gedung Putih, yang saat ini sudah diduduki oleh Pak Obama yang saya banggakan. (Gany-070809)
|
