www.hafied.org

www.hafied.org

Sep 2 / 9:50pm

ASTAGA, DALAM KEPANIKAN SAYA TELAH LANCANG MENGUJI KEBESARAN TUHAN; BERDOSAKAH?

(download)

Di sepanjang kehidupan kami yang menjelang renta ini, kami benar-benar meyakini keajaiban pertolongan dan kebesaran Tuhan yang telah kami buktikan keampuhannya berkali-kali, melalui pengabulan doa  baik yang secara mendadak, maupun melalui proses waktu yang lama (bahkan tidak jarang sampai puluhan tahun), dan kebanyakannya tidak disangka-sangka, atau sudah lupa, dan sama sekali jauh dari nalar insani kami.

Dari sekian banyak pertolongan yang tidak bisa saya pilah-pilah satu persatu dan mampu kami ungkapkan melalui rasa terima kasih, pada bulan September 1981, kami dan segenap keluarga, sangat bersyukur di samping tercengang keheranan menerima pemberian uang kontan dari seorang teman mantan sekerja sebagai Kepala Urusan di suatu kantor seksi kabupaten di Lampung Tengah, dan seorang mantan leveransir yang tinggal di Jakarta, keduanya sudah lama tidak betemu atau berkomunikasi, dan sama sekali tidak ada hubungan kerja. Pemberian uang yang benar-benar kami butuhkan pada saat itu, jumlahnya sesuai dengan doa khusyuk, merintih, dan meneteskan air mata, kepada Tuhan untuk membiayai kehidupan keluarga di Jakarta selama kami tinggalkan setengah tahun untuk menyelesaikan tahap akhir desertasi Ph.D. di Amerika Serikat. Sama halnya dengan hikmah terkabulnya doa kami yang dalam kepanikan, sempat meragukan, bahkan menguji kebesaran Tuhan, dalam artikel selanjutnya. Astagfirullah.

Comments (0)

Aug 16 / 6:51am

SIKAP DAN BUSANA MUSLIM MAHASISWI INDONESIAN DAN MAHASISWI IRAN YANG KAMI AMATI

(download)

SIKAP DAN BUSANA MUSLIM MAHASISWI INDONESIA DAN MAHASISWI IRAN YANG KAMI SAKSIKAN

Oleh A. Hafied A. Gany

www.hafied.org

 
Menyoroti Mahasiswi Indonesia-Iran: Sambil berselancar membuka-buka album FB, perhatian saya tertuju kepada sekelompok mahasiswi Indonesia yang berbusana Muslim, saya kontan teringat pengalaman saya berinteraksi dengan mahasiswi Muslim pada kunjungan kami memberi Kuliah Umum di Universitas Iran, Juli 2008, yang semula kami kami ragu untuk memintanya difoto. Kedua (maaf) foto lalu kami jejeer, menyoroti persamaan dan perbedaan budayanya.

Persamaan: (1) Kedua budaya tidak keberatan difoto; (2) Keduanya sangat terbuka berkomunikasi; (3) Keduanya senang diajak bersenda gurau dengan nuansa bersahabat ceria.

Perbedaan: (1) Iran berkerudung hitam, rambut tersembul sedikit, Indonesia berkerudung putih rambut tertutup sama sekali; (2) Indonesia, semua melihat ke kamera, sambil menikmati cemilan, Iran tidak, nampak malu-malu, dan tidak makan cemilan di luar; (3) Iran tidak boleh besentuhan atau jabat tangan dengan laki-laki, di Indonesia umumnya boleh.

Jakarta 17 Agustus 2010

Comments (0)

Jun 23 / 7:13pm

Seminar of YPF (Young Professional Forum) Indonesian National Commitee of International Commission on Irrigation and Drainage (INACID)

(download)

In attempt to reactivate the of “Young Professional Forum, INACID”, The Indonesian National Committee of ICID have been encouraging the active involvement of YPF in all of INACID activities, including working groups, task forces, discussions, workshops, colloquiums and seminars. For this purpose, on June 23rd 2010, the YPF-INACID conducted a National Seminar with the theme “Sustainable Development and Management of Water Resources”. The Seminar was officially opened by Dr. Moh Amron, Director General of Water Resources Development, Ministry of Public Works, and participated by about 160 participants from some Research Institutes of the relevant Ministries, engineering consultants, Universities, agricultural institutes, and YPF-INACID members, as well as the prospective members (invitees) from Universities, and some professional organizations in the provinces of Indonesia .

In my capacity as Vice President of ICID, based on OC's request, I gave presentation as a key note address entitled: “Water Footprint Concept as a Global Parameter for Bridging the Similar Perception on Inter-agency and Inter-stakeholders Collaboration toward Sustainable Integrated Water Resources Development and Management”.

Out of 40 abstracts proposed, 24 papers were accepted and included in the seminar proceeding. The top six of the papers were presented and discussed at the seminar, and eventually come up with special award for two top papers. The proceeding will soon be published after editing and correction with formal ISBN number (being proposed).

Comments (0)

May 28 / 12:07am

KUTIPAN: Manfaat Luar Biasa Daun Kelor

(download)

Kami sekeluarga pulang salat Jumat, hari ini, 28 Mei 2010, sempat menikmati sayur Daun Kelor pemberian teman yang kebetulan memangkas tanamannya. Batangnya kami tanam di pekarangan, dan mencari kutipan referensi manfaatnya dan postkan sbb: Maaf, alamat situs yang memuatnya kami tidak temukan, kalau pembaca menemukan situsnya, tolong diinformasikan).

KUTIPAN: Manfaat Kelor Sebagai Obat Traditional

Manfaat Kelor Sebagai Obat Tradisional MUNGKIN saja di antara kita ada yang belum mengenal kelor, meskipun tanaman ini sangat terkenal dalam pepatah ”Dunia ini tak selebar daun kelor!” Tanaman kelor (Moringa oleifera) dikenal dengan nama murong atau barunggai. Sementara itu, di Sulawesi disebut kero, wori, kelo , atau keloro.

Selain terkenal dalam kata pepatah itu, ternyata tanaman kelor ini bermanfaat dan berkhasiat sebagai obat tradisional, karena mengandung beberapa zat kimia untuk menyembuhkan penyakit. Daun kelor mengandung alkalid moringin, moringinan, dan pterigospermin.

Kemudian gom mengandung arabinosa, galaktan, asam glukonat , dan ramnosa, sedangkan bijinya mengandung asam palmitat, streaat, linoleat, olleat, lignoserat.

Kelor berupa pohon kecil dengan tingi 3-8 meter. Daunnya berwarna hijau pucat menyirip ganda dengan anak daun menyirip ganjil dan helaian daunnya bulat telur. Bunga kelor berupa malai yang keluar dari ketiak daun, sedangkan buahnya menggantung sepanjang 20-45 cm dan isinya sederetan biji bulat, tetapi bersayap tiga.

Selama ini, akar tanaman kelor berkhasiat sebagai peluruh air seni, peluruh dahak, atau obat batuk, peluruh haid, penambah nafsu makan, dan pereda kejang.

Daun kelor mengandung pterigospermin yang bersifat merangsang kulit (rubifasien) sehingga sering digunakan sebagai param yang menghangatkan dan mengobati kelemahan anggota tubuh seperti tangan atau kaki. Jika daun segarnya dilumatkan, lalu dibalurkan ke bagian tubuh yang lemah, maka bisa mengurangi rasa nyeri karena bersifat analgesik. Selain itu, daun kelor berkhasiat sebagai pelancar ASI (galata gog). Oleh karena itu, untuk melancarkan ASI, seorang ibu menyusui dianjurkan makan dan kelor yang disayur.

Biji kelor berkhasiat mengatasi muntah. Biji kelor yang masak dan kering mengandung pterigospermin yang lebih pekat sampai bersifat germisida.

Hasil penelitian Madsen dan Dchlundt serta Grabow dan kawan-kawan menunjukkan bahwa serbuk biji kelor mampu menumpas bakteri Escherichia coli, Streptococcus faecalis dan Salmonella typymurium. Karena itu di Afrika, biji kelor dimanfaatkan untuk mendeteksi pencemaran air oleh bakteri-bakteri tadi. Caranya, yaitu dengan mengendapkan air keruh yang diduga tercemar, kemudian ditaburi serbuk biji kelor sebanyak 200 mg/liter dan diaduk sampai larut.

Kemudian buah kelor diketahui mengandung alkaloida morongiona yang bersifat merangsang pencernaan makanan. Buah kelor ini biasanya disayur asam sebagai sayur yang lezat bagi lidah orang Jawa.

Namun, di antara bagian tanaman kelor yang banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah daunnya. Bahkan, masyarakat di pedesaan memanfaatkan daun kelor itu untuk sayur asam dan lalap seperti halnya daun katuk.

Daun kelor mentah yang digiling halus, kemudian dijadikan bedak atau campurkan dengan bedak, maka dapat menghilangkan noda hitam/flek/kokoloteun pada kulit wajah. (Rediem)***

Posted by kepingemas at Tuesday, January 22, 2008  
Labels: Traditional

Comment:
- Saya jual ekstrat daun kelor dalam bentuk kapsul seharga rp. 30 rb an isi 30 biji, yg berninat hub 0812-80650624 wilayah dki jakarta dan sekitarnya... minimal order 5 botol. mengandung multivitamin dan mineral, natural antibiotik. mencegah 300 macam penyakit. mengandung 18 macam asam amino esensial...
March 24, 2010 4:15 PM


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Comments (0)

May 27 / 1:26am

Progress of ICID Yogyakarta per May 2010

(download)

Please kindly refer to the latest progress of ICID2010 preparation per May 2010, The 61st International Executive Council Meeting and the 6th Asian Regional Conference of International Commission on Irrigation and Drainage, which will conducted in Yogtakarta - Indonesia from 10 to 16 October 2010.

Comments (0)

May 18 / 3:55am

ANTARA CINTA ASUHAN DAN GANGGUAN KELESTARIAN EKOSISTEM: (Berakhir dengan kuliner Bugis gulai umbut ”pokko kaluku” dengan iga sapi bertulang rawan yang merupakan kuliner termahal di keluarga kami)

(download)

ANTARA CINTA ASUHAN DAN GANGGUAN KELESTARIAN EKOSISTEM:

(Berakhir dengan kuliner Bugis gulai umbut ”pokko kaluku” dengan iga sapi bertulang rawan yang merupakan kuliner termahal di keluarga kami)

 

By Hafied Gany

gany@hafied.org; www://twitter.com/hafiedgany  

 

---------

Sambil menyiapkan artikel singkat ini, dalam benak saya timbul rasa sedih dan perasaan bersalah yang mendalam, bukan hanya kepada sahabat karib saya yang orang Muangthai, tapi juga karena menyesali keputusan untuk menebang tuntas pohon “kelapa pandan-bangkok” (yang bibitnya sengaja saya bawa dalam koper dari Bangkok di Tahun 2000) yang telah kami tanam di pekarangan dan asuh dengan penuh kasih sayang dan kehati-hatian selama hampir sepuluh tahun, dan pasti akan membawa dampak terhadap kelestarian lingkungan bagaimanapun kecilnya dampak tersebut.

Walaupun sebenarnya saya mempunya argumentasi yang saheh dalam keputusan menebang pohon kesayangan keluarga dan sahabat Thailand saya tersebut, dan semakin menjadi signifikan karena baru saja susudah ini saya menerima telephon dari sahabat Muangthai tersebut (yang kini sudah menjalani purna tugas di Departemen Pengairan Kerajaan Muangthai, dan memutuskan menjadi Pendeta Agama Budha di Kampung halamannya) bahwa beliau akan berkunjung ke rumah kami sebagaimana yang sudah beberapa kali dilakukannya di masa lalu, pada akhir bulan Juni 2010 mendatang. Kalau tidak terlanjur di tebang, pasti saya tunda dulu sampai beliau selesai berkunjung, namun semuanya sudah terlanjur, maka saya hanya hanya bisa berharap bahwa beliau membaca artikel singkat ini sebelum berkunjung ke Jakarta (makanya artikel ini saya sajikan juga dalam Bahasa Inggeris), dan mengharapkan pada gilirannya beliau akan menerima dan memaafkan keputusan saya menebang pemberian kesayangannya, kendatipun sebenarnya saya masih tinggalkan satu pohon yang tumbuh lebih subur di sebelahnya.

 

 

Comments (1)

May 18 / 3:48am

ANTARA CINTA ASUHAN DAN GANGGUAN KELESTARIAN EKOSISTEM: (Berakhir dengan kuliner Bugis gulai umbut ”pokko kaluku” dengan iga sapi bertulang rawan yang merupakan kuliner termahal di keluarga kami)

(download)

ANTARA CINTA ASUHAN DAN GANGGUAN KELESTARIAN EKOSISTEM:

(Berakhir dengan kuliner Bugis gulai umbut ”pokko kaluku” dengan iga sapi bertulang rawan yang merupakan kuliner termahal di keluarga kami)

 

By Hafied Gany

gany@hafied.org; www://twitter.com/hafiedgany  

 

---------

Sambil menyiapkan artikel singkat ini, dalam benak saya timbul rasa sedih dan perasaan bersalah yang mendalam, bukan hanya kepada sahabat karib saya yang orang Muangthai, tapi juga karena menyesali keputusan untuk menebang tuntas pohon “kelapa pandan-bangkok” (yang bibitnya sengaja saya bawa dalam koper dari Bangkok di Tahun 2000) yang telah kami tanam di pekarangan dan asuh dengan penuh kasih sayang dan kehati-hatian selama hampir sepuluh tahun, dan pasti akan membawa dampak terhadap kelestarian lingkungan bagaimanapun kecilnya dampak tersebut.

Walaupun sebenarnya saya mempunya argumentasi yang saheh dalam keputusan menebang pohon kesayangan keluarga dan sahabat Thailand saya tersebut, dan semakin menjadi signifikan karena baru saja susudah ini saya menerima telephon dari sahabat Muangthai tersebut (yang kini sudah menjalani purna tugas di Departemen Pengairan Kerajaan Muangthai, dan memutuskan menjadi Pendeta Agama Budha di Kampung halamannya) bahwa beliau akan berkunjung ke rumah kami sebagaimana yang sudah beberapa kali dilakukannya di masa lalu, pada akhir bulan Juni 2010 mendatang. Kalau tidak terlanjur di tebang, pasti saya tunda dulu sampai beliau selesai berkunjung, namun semuanya sudah terlanjur, maka saya hanya hanya bisa berharap bahwa beliau membaca artikel singkat ini sebelum berkunjung ke Jakarta (makanya artikel ini saya sajikan juga dalam Bahasa Inggeris), dan mengharapkan pada gilirannya beliau akan menerima dan memaafkan keputusan saya menebang pemberian kesayangannya, kendatipun sebenarnya saya masih tinggalkan satu pohon yang tumbuh lebih subur di sebelahnya.

 

Comments (0)

May 16 / 5:29am

SUMBER DAYA AIR MEMASUKI ERA GLOBALISASI: Dari Perspektif Hidrologi, Desentralisasi dan Demokratisasi

(download)

SUMBER DAYA AIR MEMASUKI ERA GLOBALISASI:

Dari Perspektif Hidrologi, Desentralisasi dan Demokratisasi di Seputar Konstalasi Privatisasi dan Hak-Guna Air

 

Oleh:

A. Hafied A. Gany Ó

www.hafied.org; gany@hafied.org;

 

SINOPSIS

B

erpangkal tolak dari upaya penerapan UU No. 5/1974 tentang Pemerintahan di Daerah, ternyata pelaksanaannya di waktu itu mengalami berbagai kendala untuk mewujudkan tuntutan Otonomi Daerah. Kendala tersebut kemudian diantisipasi dan dikristalisasikan dengan tuntutan demokratisasi dan "role-sharing" yang berkembang dengan kelahiran UU No.22/1999 tentang “Pemerintahan Daerah”, kemudian menyusul diberlakukannya UU No. 32, tentang Pemerintahan Daerah pada tanggal 15 Oktober 1994, yang merupakan penyempurnaan UU sebelumnya.  

Dalam kurun waktu yang sama, di bidang sumber daya air (SDA), sebagai implikasi produk per-UU-an Otonomi Daerah tersebut, timbul tuntutan untuk kajian ulang UU No. 11/1974 tentang Pengairan, yang kemudian baru 30 tahun berselang dapat terwujud dengan disyahkannya UU No. 7 tahun 2004 tentang SDA pada tanggal 18 Maret 2004. Kelahiran UU SDA ini, sempat mengundang pro dan kontra, yang kemudian bermuara kepada  pengajuan uji formil dan Materiil (Judicial Review) terhadap UU tersebut oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ke Mahkamah Konstitusi (MK), yang intinya tentang “privatisasi” dan manajemen SDA dengan “sistem-hak” atau “sistem-perizinan”. Setelah melalui berbagai pertimbangan uji materi, kajian dan pembahasan, MK pada akhirnya memutuskan menolak permohonan para pemohon tersebut.

Dalam upaya menengarai implikasi Keputusan MK tersebut terhadap manajemen SDA ke depan sesuai UU SDA pasca putusan MK, berbagai pertanyaan yang perlu terlebih dahulu dijawab sebelum melangkah lebih jauh. Pertama; Apakah SDA -- sebagai SD Alam yang dinamis -- dapat dikategorikan sebagai SD alam strtegis yang bisa diperlakukan sebagai komoditas ekonomi seperti SD Alam statis lainnya? Kedua; Apakah SDA dapat diisolasi secara fisik untuk dipandang dan diperlakukan sebagai komoditas ekonomi dalam menunjang peningkatan pendapatan daerah? Ketiga; Dengan kaidah fisik alami yang dimilikinya, akankah efektif pengelolaannya bila dilakukan secara ter-fragmentasi mengikuti yurisdiksi administrasi pemerintahan? Keempat; Bagaimana strategi penerapan UU No. 7/2004 sejalan dengan UU No.32/2004, beserta UU terkait lainnya sebagai instrumen statuter untuk mengoptimalkan kontribusi Sektor SDA dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat?; Kelima;  Apakah pengembangan dan pengelolaan SDA dapat diselenggarakan dengan hampiran “privatisasi”? Bagaimana keterkaitannya dengan “hak-guna” air, pemerintahan yang baik (good governance) dan pembangunan berkelanjutan? Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, makalah ini mencoba mengulas "Manajemen SDA berdasarkan implementasi UU SDA pasca putusan MK", dengan rujukan khusus terhadap kaidah-kaidah teoritis maupun empiris dengan menggunakan parameter sosial ekonomi, budaya, finansial dan kaidah hidrologi yang berpengaruh, dikaitkan dengan perspektif globalisasi, desentralisasi, demokratisasi, privatisasi dan hak-guna air.

 

Kata Kunci: Manajemen Sumber Daya Air, Hidrologi, Globalisasi, Privatisasi, dan Hak-Guna Air.



Ó (Widyaiswara Utama Departemen Pekerjaan Umum, R.I.; Board of Director, International Networks on Participatory Irrigation Management – INPIM; Ketua Umum Cabang INPIM Indonesia; Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk ICID (INACID) Bidang Hubungan Luar Negeri; Anggota HATHI Cabang Jakarta No. 020280; Anggota Dewan Banding HATHI; Anggota Majelis Penilai Insinyur Profesional BK Sipil, PII; ). Web: http://www.hafied.org; E-Mail: gany@hafied.org; gany@scientist.com

 

Comments (0)

May 16 / 3:22am

SISI LAIN DARI RANCANGAN MATERI PELATIHAN MINDSETTING DAN PROGRAM TRANSFORMASI BIROKRASI

(download)

Tanggapan (Bersifat Intern):

SISI LAIN DARI RANCANGAN MATERI PELATIHAN MINDSETTING DAN PROGRAM TRANSFORMASI BIROKRASI:

Sebuah Sorotan untuk Menjadi Bahan Pemikiran dalam Upaya Penyempurnaan Materi Pelatihan Mind Setting dan Program Transformasi Pekerjaan Umum[1]

 

Oleh: A. Hafied A. Gany[2]

gany@hafied.org; http://www.twitter.com/hafiedgany 

 

 

INTISARI

Dalam upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia sebagai subyek pembangunan dan penyelenggaraan tuntutan tugas menyongsong Program Transformasi Birokrasi, khususnya pada pemimpin organisasi unit-unit kerja yang memimpin anak buah (staf pelaksana), mereka memerlukan pemahaman atau “awareness” atas Program Transformasi Birokrasi di Lingkungan Organisasi kerjanya (Dalam kaitan ini, Kementerian Pekerjaan Umum) agar mampu mendorong terciptanya perubahan yang bersifat Mendasar, Strategik, dan Menyeluruh. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, disusun rancangan transformasi Pekerjaan Umum, dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dalam upaya mengubah mind-set, mengembangkan sekenario perubahan, serta mengelola dan memimpin perubahan secara aktual sesuai tuntutan kerja pelayanan publik prima kepada stakeholder dan masyarakat publik pada umumnya.

Rancangan materi yang menjadi bahan bahasan dalam pertemuan ini, mencakup pemahaman terhadap implikasi Gelombang Perubahan dari Era Industri (Industrial Era) ke Era Informasi (Information Era), menyangkut segala aspek pengelolaan organisasi masa kini yang pada kenyataannya banyak yang bertolak belakang dengan paradigma pengelolaan organisasi yang selama ini disusun dan diimplementasikan sesuai dengan paradigma lama yang sudah bergeser ke paradigma baru saat ini, sesuai tuntutan Era Ekonomi Gelombang Ketiga. Hal ini diharapkan agar dapat dikuasai secara mendalam oleh para pelaksana transformasi birokrasi dalam mewujudkan pelayanan publik prima.

Secara umum, kami menanggapi bahwa rancangan materi pembelajaran ini sudah cukup memadai untuk dijadikan sebagai bahan ajar dalam rangka penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan aparatur, guna memperoleh pemahaman atau “awareness” yang mendasar atas Program Transformasi Birokrasi di Lingkungan Organisasi kerjanya, dengan memberikan contoh-contoh kasus atau isue-isu aktual yang dihadapi lingkungan kerja masing-masing.

Dalam upaya memberikan masukan untuk penyempurnaan, saya dalam kapasitas sebagai pembahas, mencoba menyoroti rancangan materi ini, dari sisi lain, khususnya berkaitan dengan upaya pencapaian sasaran pembelajaran secara realistis, yang belum tercakup dalam rancangan materi ini, antara lain tuntutan penyesuaian dengan environmental prerequisite (enabling environment) yang mutlak menjadi tuntutan pencapaian tujuan pelatihan/pembelajaran.

Kata kunci:   Mind-setting; Transformasi Birokrasi; Paradigma Baru; World Class Public Organization; Learning Organization;



[1] Tulisan ini merupakan tanggapan umum yang disiapkan A. Hafied A. Gany dalam rangkan memberikan masukan untuk penyempurnaan materi rancangan materi pelatihan mind-setting dan program transformasi transformasi Pekerjaan Umum, yang telah dibahas di Kompleks LPPA (JASINDO) Cisarua, tanggal 11-12 Mei 2010.

[2]  A. Hafied A. Gany, Ph.D., P.Eng. Adalah Widya Iswara Utama Departemen Pekerjaan Umum (IV/e) dan telah memasuki masa purna bhakti sejak 1 Desember 2009.

Comments (1)

Apr 22 / 6:44pm

"AN OUTLOOK OF INFRASTRUCTURAL HERITAGES OF IRRIGATION IN INDONESIA: Slides for Presentation in pdf Format

(download)

"AN OUTLOOK OF INFRASTRUCTURAL HERITAGES OF IRRIGATION IN INDONESIA:

Drawbacks and Future Perspectives" [1]

By

A. Hafid A. Gany,[2]

gany@hafied.org; http://twitter.com/hafiedgany

 

D

espite that irrigation in Indonesia has long been played a very significant role in the history of the country's development, the technical irrigation infrastructure has only been introduced by civil engineering undertaking between the end of the 19th century and turn of the 20th century. This was more significant when the Dutch Colonial Government applying the so called "Ethical Policy", by fostering Irrigation, education and transmigration program to enhance the development of its colonies. Initially, the water infrastructure was developed to foster water use for sugar cane plantation and hazard protection, which was the domain of civil engineers, then geared toward effective water use for supporting rice production as the staple diet of the population.

Due to lack of technical expertise, at the initial stage, the main irrigation structures such as barrage and weirs were constructed by means of trial-and-error approach. Then it was not surprising that many of the major irrigation structures were in fact collapsed by the large flood incident before even the construction completed. Other structures were found over designed to accommodate huge safety factors, and hence the structures were highly inefficient from both civil engineering as well as economic justification. The term of stainable development was merely considered by development engineer from the lasting quality of the water infrastructure as artificial resources, and less attention on sustaining the functionality by means of effective and efficient operation and maintenance O&M. This condition become exceptionally worsened due to the fact that the structural O&M were somewhat neglected and even become non existence, particularly the case during and after the World War II.

As the matter of fact, from a series of experiences in irrigation implementation, it gives strong supports that management of irrigation, drainage, and flood control system is much more important than construction of facilities per se’. This matter have been apparent through the ancient traditional irrigation system under rice pattern in Indonesia that has been highly sustainable with active participation of local population for hundreds of years without major problems. In contrast, modern system of major engineering works has not fully achieved the expected performance – in fact, some modern irrigation systems had been failure to achieve the targets that had been previously envisaged due to a number of socio-technical constraints, including the lack of community participation as well as inappropriate O&M.

Under such circumstances, despite the full support from the government, the structural existence of most irrigation facilities were not only hardly possible to accomplish its practical function but also hardly available to perform social amenity for the people living around it, although they may not be aware of the value of the amenity especially of the one constructed long years ago. It is undeniable, however, that under the intensive irrigation development, we can still find many well-designed water infrastructures that have been functioning for long years and still remaining in good shape in terms of physical condition, but this kind of infrastructures – especially after the war – were also suffer from degradation due to the absence of appropriate O&M. In addition to the fact that most community members were suffered from dependency attitude, waiting assistance from the government, and almost having no sense of participation and sense of belonging against the public facilities as well as infrastructures.

In attempt to recover the impact of the post war on top of the substantial impacts of economic crisis, this paper is presenting an outlook of infrastructural heritages of irrigation in Indonesia, giving special discussion on the drawbacks, as well as their immediate causes and future perspectives. It is expected that by learning more from the water infrastructural’ heritages in Indonesia and advanced experiences in other nations. It will enhance a good opportunity to deepen the sense of “natural and cultural friendly engineering” of water infrastructures and eventually contribute the raising of awareness and hence public participation O&M of water infrastructures, under the best cooperation between administration organization and local community.

 

Key Words: Infrastructural Heritages; Irrigation; Water Resources Infrastructures



[1] This Paper has been prepared for the “Seminar on Heritage of Water Infrastructure”, as one of World Water Day’s Programs, conducted by JICA in collaboration with the Secretariat of National Water Resources Council (Sekretariat Dewan Sumber Daya Air Nasional), and Directorate General of Water Resources, Ministry of Public Works, in Jakarta, 21st April 2010.

 

[2] Mr. A. Hafied A. Gany, Ph D., P.Eng, is the incumbent Vice President of International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) and the Chairman of Permanent Committee of Strategic Planning and Organizational Affairs (PCSPOA) of ICID.

Comments (0)